Minggu, 28 Oktober 2007

MEMBANGUN KWALITAS DAN KWANTITAS HASIL PERTANIAN FLORES TIMUR

Kwalitas suatu hasil produksi sangat mempengangaruhi nilai jual sesuai kebutuhan pasar. Lalu kita melihat nilai jual hasil pertanian Flotim sebagai penunjang perekonomian primer sangat tidak stabil, katakan saja seperti jambu mente (mede). Pengalaman buruk untuk menghasilkan sesuatu yang tidak berkwalitas seperti pada pengelolaan kopra diera pertengahan tahun 1970-an (pada saat itu awal kemerosotan kwalitas kopra, mulai dari kematangan buah kelapa sampai pada pengelolaan kopra yang asal jadi/tidak sampai kering sekali), sehingga para petani terus dirugikan karena akhirnya harga kopra kian lama semakin menurun. Kini terulang kembali pada hasil pertanian jambu mente (mede). Pengalaman buruk itu tidak pernah membukakan mata para petani untuk berpoduksi secara lebih profesional dan juga tak pernah ada perhatian dinas-dinas terkait dalam memberikan penyuluhan/pembinaan kepada para petani untuk bekerja lebih efektif untuk meraih kwantitas yang berkwalitas hasil usahanya.

Terdesak Karena Kebutuhan.

Memang kita tahu bahwa pengelolaan (bertani) secara tradisional, masih dianut oleh petani Flotim, sangat sulit untuk menghilangkan pola pikir dan pola kerja paradikama lama. Namun tentu saja pemerintah daerah terutama bupati perlu menangkap pola ini untuk membicarakan dengan dinas-dinas terkait, membuat program secara rutin lalu melakukan penyuluhan/pembinaan secara periodik, selanjutnya siap turun kelapangan untuk dapat merubah pola kerja yang tradisional menjadi lebih modern untuk mendapatkan hasil yang lebih memuaskan. Uapaya yang dilakukan terus menerus untuk memberi penyadaran kepada para petani ala Bapak Duli Mukin memaparkan pentingnya program KB (keluaga berencana) dijaman itu, maka kita yakin semuanya lambat laun akan berubah atau minimal dapat melelehkan hati paradikma lama yang terkristal bertahun-tahun lamanya. Kita jangan merasa pesimis karena alasan para petani merasa terdesak dengan kebutuhan sehari-hari, sehingga sulit mempertahankan kwalitas maupun kwantitas hasil usanya. Disini harus dibutuhkan niat, kesabaran dan kerja keras karena lebih mudah membakar mental orang Lamaholot dari pada mencairkan nurani yang telah membatu. Pak Simon Hajon,cobalah mengkaji pendapat ini untuk membangun kwalitasdan kwantitas hasil pertanian Flores Timur.

1 komentar:

Lewotana Demon Pagong mengatakan...

Sebenarnya petani kita di NTT tidak salah karena bagaimanapun untuk menghasilkan kualitas & kuantitas hasil pertanian kita, diperlukan tekonogi pertanian yang cocok dengan kondisi alam NTT yang tandus dan kering.Yang sangat diperlukan adalah bagaiman peran dinas-dinas pertanian, perkebunan,industri yang ada di kab.Flores Timur untuk untuk mendesai tekonogi yang tepat untuk pertanian kita di NTT, memberikan penyuluhan dan bimbingan tentang bagaimana teknik budidaya tanaman komoditas pertanian kita. Seperti mente misalnya kebanyakan petani kita hanya tahu cara menanam tetapi tidak tahu bagaimana merawatnya.Yang ada cuma membersihakan rumput & semak duri di sekitar pohon mete dan setelah itu dibiarkan tumbuh begitu saja. Tidak ada pengetahuan misalnya berapa jarak antar satu pohon dengan pohon lain,satu pohon mente kira-kira mampu menghasilkan biji mente sampai berapa tahun,sehingga perlu disiapkan anakan mente yang baru untuk mengganti pohon yang sudah tua,dsb. Pengetahuan ini perlu sehingga walaupun dengan lahan terbatas dan dengan kondisi musim yang tidak menentu, pohon mente tersebut mampu menghasilkan biji dalam kulitas dan kuantitas yang sama. Disinilah menurut saya tugas dinas terkait untuk memberikan penyuluhan dan melakukan riset untuk tekonologi pertanian kita, disamping peran dinas perdagangan untuk selain menyiapkan jalur pemasaran dan dinas industri untuk memikirkan industri pengolahan biji mente sehingga ada nilai tambah terhadap mente tersebut dan tidak hanya dijual dalam bentuk biji,tetapi diolah lagi sehingga meningkatkan nilai tambah terhadap mente tersebut.