Ketika saya masih di kampung halaman yang namanya kerukunan hidup berdampingan itu sangat dirasakan. Mulai dari sesama aliran kepercayaan sampai kepada mereka yang beragama lain. Hidup seakan tak pernah ada beban untuk menjalankan kewajiban beragama. Kebetulan agama yang berkembang di desa kami (pulau adonara) pada saat itu cuma ada Katholik dan Islam. Gereja/Kapel, Masjid/Langgar dibangun bersama-sama oleh seluruh warga desa.
Tak pernah ada bayangan sedikitpun kalau akhirnya di daerah seperti Jakarta, nuansa kerukunan antar umat beragama tidak serukun yang saya alami pada saat saya masih didesa. Lalu apa sebenarnya yang telah membuat rukun tidaknya antar sesama manusia itu sendiri, terutama dalam beda keyakinan?........................... Saya melihat bahwa peran orang ke tiga (tokoh masing-masing kepercayaan) cukup menentukan dalam hal ini. Andaikata masing-masing orang yang ditokohkan itu hanya menyampaikan hal-hal seputar kebiasaan tentang kepercayaannya, maka besar kemungkinan kesalahpahaman yang berdampak pada tidak rukunnya antar umat manusia yang berbeda keyakinan dapat dikurangi. Atau mungkin aliran kepercayaan salah satu agama telah teradopsi menjadi bagian dari kebudayaan setempat. Marilah kita membedakan antara pandangan kebudayaan setempat dengan kepercayaan beragama untuk kerukunan kita semua tanpa mengurangi makna "dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung".
LANGKAH PASTI MENUJU SENAYAN
7 tahun yang lalu



Tidak ada komentar:
Posting Komentar